Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Senin, 15 Oktober 2012

Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia



Kerajaan Samudera Pasai


Kerajaan  ini merupakan hasil islamisasi di daerha pantai yang pernah disinggahi oleh para pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India sejak abad ke-7 dan 8.

Munculnya kerajaan ini disebabkan oleh kemunduran kerajaan Maritim Sriwijaya.
Kerajaan ini didirikan oleh  Malikul Saleh dan letak kerajaan ini terletak di muara sungai Peusangan di pesisir timur Aceh.



Raja-raja yang memerintah di Samudra Pasai antara lain :
1.Sultan Malik al-Saleh (1285 – 1297).
2.Sultan Muhammad (Malik al-Tahir I).
3.Sultan Ahmad (Malik al-Tahir II).
4.Sultan Zaenal Abidin (Malik al-Tahir III). 

...Sultan Malikul Shaleh > kerajaan samudra pasai berkembang menjadi bandar yang besar dan penting bagi  perdagangan mancanegara.
...Berkat kemajuan perdangan,Samudra Pasai berkembang menjadi kerajaan yang makmur dan memiliki pertahanan yang kuat guna memperluas pengaruhnya terutama daerah pedalaman.
...Batu nisan Sultan Malikul Shaleh menunjukkan bahwa Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia

Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial kerajaan samudra Pasai diatur berdasarkan ajaran Islam atau hukum Islam dan Samudra Pasai mendapat julukan “Serambi Mekah”.

Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi Samudra Pasai menitikberatkan pada sektor perdagangan.
Perkembangan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudra Pasai yang sangat pesat, menjadi perhatian dan incaran dari kerajaan lain disekitarnya. 

Kehidupan Budaya
Sebagai kerajaan Maritim, di Samudra Pasai tidak banyak atau tidak ditemukan peninggalan budaya.
Benda warisan sejarah, seperti :
Batu nisan atau jijrat putri Raja Pasai yang didatangkan dari Gujarat. Jadi di kerajaan Samudra Pasai tidak ditemukan hasil kebudayaan asli masyarakat setempat.
Penemuan makam Sultan Malik as-Saleh yang bertarikh 696 H atau 1297 M, dirujuk oleh sejarahwan sebagai tanda telah masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-13. Walau ada pendapat bahwa kemungkinan Islam telah datang lebih awal dari itu. 




Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh dirintis oleh Mudzaffar pada abad ke-15.
Pusat kerajaan dibangun di Kerajaan Lamuri, sebelah barat laut Samudra Pasai.
Status kerajaan penuh diraih semasa Pemerintahan Ali Mughayat Syah sebagai hasil penyatuan dua kerajaan.


Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Kerajaan Aceh letaknya yang strategis, sehingga mempengaruhi perkembangan hidup di Kerajaan Aceh dalam berbagai bidang.




Kerajaan Aceh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatra pernah diperintah oleh raja-raja berikut:
1.Sultan Ali Maghayat Syah
2.Sultan Salahuddin
3.Sultan Alauddin Riayat Syah
4.Sultan Iskandar Muda
5.Sultan Iskandar Thani

Kehidupan ekonomi
Karena letaknya di jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran Selat Malaka, kehidupan ekonominya juga = kerajaan Samudra Pasai yang menitikberatkan dalam bidang perdagangan.

Kehidupan sosial
Struktur sosial masyarakat Aceh terdiri atas 4 golongan,antara lain:
1.Teuku : kaum bangsawan pemegang kekuasaan Pemerintahan Sipil
2.Teungku : aum ulama pemegang penting dalam keagamaan.
3.Hulubalang : para prajurit rakyat biasa

Kehidupan Budaya
Hasil peninggalan kebudayaan kerajaan Aceh,seperti:
1. Masjid Baiturrahman

2. Buku “Bustanu’s Salatin” -> Narruddin ar-Raniri (sejarah raja-raja Aceh)



Kerajaan Demak
Kerajaan Demak muncul, setelah Majapahit runtuh. Demak dikenal sebagai Kerajaan Islam yang pertama kali masuk ke Pulau Jawa.




Raja-raja yang memerintah Kerajaan Demak, anta lain:
  1.  Raden Patah
  2.  Dipati Unus
  3.  Sultan Trenggono

Kehidupan sosial
Kehidupan sosial Kerajaan Demak tidak jauh dengan kerajaan Majapahit. Kerajaan ini sudah diatur sesuai ajaran Islam, namun juga ada yang masih menganut tradisi lama. Sehingga, muncul kehidupan sosial perpaduan Agama Islam dan tradisi lama (Hindhu-Budha)

Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi Kerajaan ini menitikberatkan dalam bidang pedagangan dan pertanian.
> Perdagangan : letak strategis, yaitu antara penghasil rempah-rempah dan pasar perdagangan.
> Pertanian : perekonomian berkembang dengan pesat dalam dunia maritim, karena didukung sektor pertanian yang  cukup besar.


Kehidupan Budaya
Pada waktu Demak berkuasa, Islam berkembang dengan pesat di Pulau Jawa dan dibantu oleh Wali Songo, diantara para wali yang digunakan sebagai penasehat di Demak adalah Sunan Kalijaga.




Kerajaan Banten

Kerajaan Banten pada tahun 1525, sunan gunung jati atau Syarif Hidayatullah dari Cirebon meletakkan dasa-dasar pengembangan agama dan kerajaan Islam, serta perdagangan di Banten. Setelah ia kembali dan menetap di Cirebon, Banten di serahkan kepada putranya yaitu Hasanuddin. 

Berikut raja-raja yang memerintah kerajaan Banten, diantaranya:
1. Hasanuddin
2. Penembahan Yusuf
3. Maulana Muhammad
4. Sultan Ageng Tirtayasa

Kehidupan sosial
Kehidupan sosial masyarakat secara perlahan mulai berdasarkan ajaran Islam.
Pengaruh Islam sangat berkembang setelah menaklukkan kerajaan Hindu Pajajaran, tetapi mereka yang tidak mau menganut Islam menyingkir ke pedalaman (Badui) dan menganut kepercayaan Pasundan Kawitan.

Kehidupan ekonomi
Perekonomian kerajaan Banten bergantung pada bidang perdagangan.
Hal ini karena beberapa alasan, diantaranya:
1.  Kerajaan Banten terletak di teluk Banten dan pelabuhannya memenuhi syarat sebagai pelabuhan dagang yang baik
2.  Kedudukan kerajaan Banten sangat strategis di tepi selat Sunda.
3.  Banten memiliki ekspor penting.
4.  Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis

Kehidupan Budaya
Dalam bidang Seni Bangunan, Kerajaan Banten membangun sebuah Masjid Agung Banten yang dibangun sekitar abad ke-16, yang mana menara Masjid Agung Banten yang mirip mercusuar dibangun oleh Hendrik Lucazoon Cardel (orang Belanda pelarian dari Batavia yang masuk Islam)

Kerajaan Sriwijaya

Jumat, 08 Juni 2012

Kerajaan Sriwijaya
Pada awal abad ke-7 M, Kerajaan Fu-Nan di daerah Indo-Cina mengalami keruntuhan akibat perang saudara. Posisinya sebagai kerajaan maritim yang menguasai Asia Tenggara diambil alih Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya mencapai kejayaan pada abad ke-8 dan ke-9 M saat diperintah Raja Balaputradewa.


Wilayah Kekuasaan
Dalam sejarahnya, kerasaan Sriwijaya menguasai bagian barat Nusantara. Salah satu faktor yang menyebabkan Sriwijaya bisa menguasai seluruh bagian barat Nusantara adalah runtuhnya kerajaan Fu-nan di Indo-Cina.
Faktor lainnya adalah kekuatan armada laut Sriwijaya yang mampu menguasai jalur lalu lintas perdagangan antara India dan Cina.
Dari prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK Van der Meulen di Pulau Bangka pada bulan Desember 1892 M, diperoleh petunjuk mengenai Kerajaan Sriwijaya yang sedang berusaha menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun tidak dijelaskan wilayah mana yang dimaksud dengan Bhumi Jawa dalam prasasti itu, beberapa arkeolog meyakini, yang dimaksud Bhumi Jawa itu adalah Kerajaan Tarumanegara di Pantai Utara Jawa Barat.


Periode Pemerintahan
Kerajaan Sriwijaya berkuasa dari abad ke-7 hingga awal abad ke-13 M, dan mencapai zaman keemasan di era pemerintahan Balaputra Dewa (833-856 M). Kemunduran kerajaan ini berkaitan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Sumatera, dan munculnya kekuatan Singosari dan Majapahit di Pulau Jawa.
Struktur Pemerintahan
Kekuasaan tertinggi di Kerajaan Sriwijaya dipegang oleh raja. Untuk menjadi raja, ada tiga persyaratan yaitu:
1) Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya.
2) Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan pada rakyatnya.
3) Ekachattra. Eka berarti satu dan chattra berarti payung. Kata ini bermakna mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya.
Belum diketahui secara jelas bagaimana struktur pemerintahan di bawah raja. Salah satu pembantunya yang disebut secara jelas hanya senapati yang bertugas sebagai panglima perang.


Kebudayaan
Sriwijaya hanya meninggalkan sedikit tinggalan purbakala di jantung negerinya di Sumatera, sangat berbeda dengan episode Sriwijaya di Jawa Tengah saat kepemimpinan wangsa Syailendra yang banyak membangun monumen besar, seperti Candi Kalasan, Candi Sewu dan Borobudur. Candi-candi budha yang berasal dari masa Sriwijaya di Sumatera antara lain Candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus dan Biaro Bahal, akan tetapi tidak seperti candi periode Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit, candi di Sumatera terbuat dari bata merah.


Para Maharaja Sriwijaya

TAHUN
NAMA RAJA
683
702
775
792
835
988
1008
1025

Kerajaan Mataram Kuno


Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno (atau sering juga disebut Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Mataram Kuno akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.


Wilayah Kekuasaan
Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.
Sesungguhnya, pusat Kerajaan Mataram Kuno pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang.
Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain,

o Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
o Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
o Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
o Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
o Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
o Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
o Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.

Periode Pemerintahan
Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasasti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M. Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur.

Kebudayaan
Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah, menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Mataram Kuno.
Candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun oleh Sailendrawangsa ini telah ditetapkan UNESCO (PBB)sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Struktur Pemerintahan
Sanjaya sebagai raja pertama memakai gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan Datu yang berarti "pemimpin". Keduanya merupakan gelar asli Indonesia.
Ketika Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya dan diganti dengan gelar Sri Maharaja.
Jabatan tertinggi sesudah raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang memiliki peluang untuk naik takhta selanjutnya. Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada masa pemerintahan Dyah Wawa.
Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan perdana menteri namun tidak berhak untuk naik takhta.
Jabatan sesudah Mahamantri i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri i Sirikan. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih ditambah lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri Bawang.
Jabatan tertinggi di Mataram Kuno selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan sebagai pelaksana perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman sekarang.


Daftar raja-raja Mataram Kuno :

oSanjaya, pendiri Kerajaan Medang
oRakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra
oRakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
oMpu Sindok, awal periode Jawa Timur
oDharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir
Pada daftar di atas hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu, sedangkan raja-raja sesudahnya semua memakai gelar Sri Maharaja.