Kebijakan Pemerintah Kolonial di Indonesia pada Abad ke-19

Sabtu, 02 Juni 2012
Pemerintahan Kerajaan Belanda

Sejak tahun 1800, Belanda menerapkan politik dagang dan sistem pajak. Dengan tujuan ingin mengeruk kekayaan dari bumi Indonesia tanpa mau memperhatikan nasib rakyat. Pengaruh politik kekuasaan Belanda makin kuat sehingga kewibawaan raja-raja merosot. Mereka dijadikan alat pembantu bagi Belanda untuk menggali kekayaan bumi Indonesia.

Gubernur Jenderal Daendels
Pada tanggal 15 Januari 1808, Gubernur Jenderal Wiese menyerahkan kekuasaannya kepada Daendels. Kedatangan Deandels di Indoensia sebagai gubernur jenderal mempunyai tugas pokok mempertahankan pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan memperbaiki keadaan tanah jajahan.
Deandels berusaha mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris dengan melakukan tindakan, antara lain sebagai berikut :
  • Membuat jalan raya dari Anyer sampai Panarukan.
  • Mendirikan benteng-benteng pertahanan.
  • Membangun pangkalan Angkatan Laut di Merak dan di Ujung Kulon.
  • Memperkuat pasukan dengan beranggotakan orang Indonesia 
 
Gubernur Jenderal Janssens
Pada saat Jansens memerintah, kedudukan Inggris di Indonesia makin kuat dan makin dekat untuk menguasai pulau Jawa. Pada tahun 1811 Jansens menyerah kepada Inggris di daerah Tuntang, Salatiga (Jawa Tengah). Penyerahan itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian damai oleh kedua belah pihak yang disebut Kapitulasi Tuntang yang berisi :
Seluruh kekuatan militer Belanda yang berada wilayah asia tenggara harus diserahkan kepada Inggris
Utang pemerintah Belanda tidak diakui oleh Inggris
Pulau Jawa, Madura dan semua pangkalan militer Belanda di luar Jawa menjadi wilayah kekuasaan Inggris.
Pemerintahan Kolonial Inggris 
     Kebijakan pemerintahan Gubernur Thomas S. Raffles, yaitu:
  • Perwujudan kebebasan meliputi kebebasan menanam, berdagang dan berproduksi untuk ekspor
  • Menegakakan hukum yang berupa perlindungan kepada rakyat agar bebas  dari kesewenang-wenangan.
Kebijakan politik itu dikenal sebagai sistem pajak tanah (landrent system).

Pokok-pokok Sistem Pajak Tanah
Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam sistem pajak tanah.
  • Segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa dihapuskan.
  • Semua tanah menjadi milik pemerintah kolonial.
  • Penyewahan tanah di beberapa daerah dilakukan berdasarkan kontrak dan batas waktu.
Keuntungan Sistem Pajak Tanah bagi Rakyat
Keuntungan yang didapat dari sistem pajak bagi rakyat.
  • Rakyat bebas menanam tanaman yang menguntungkan sesuai dengan keterampilannya.
  • Rakyat membayar sewa sesuai dengan aturan yang berlaku,tanpa rasa khawatir adanya punggutan liar.
  • Rakyat akan tergerak untuk meningkatkan hasil pertanian karena akan meningkatkan tarif kehidupannya.
Keuntungan Sistem Pajak Tanah bagi Pemerintah Kolonial
Keuntungan sistem pajak tanah bagi pemerintah kolonial, yaitu :
  • Pemerintah memperoleh pemasukkan pendapatan secara tetap dan terjamin.
  • Semakin besar hasil panen semakin besar pula sewa tanah yang diterima oleh pemerintahan kolonial.
Kendala Sistem Pajak Tanah
Berikut ini beberapa kendala yang dihadapi pemerintah Raffles dalam penerapan pajak tanah.
  • Sistem feodal telah berakar dan menjadi tradisi di Indonesia.
  • Pegawai pemerintah yang cakap untuk mengendalikan pelaksanaan sistem pajak tanah terbatas jumlahnya.
  • Rakyat Indonesia belum siap menerima sistem yang baru.
  • Kepemilikan tanah berciri tradisional(warisan adat). Akibatnya, pemerintah kolonial mengalami kesulitan dalam prosedur pengambilan tanah.

Pemerintahan Komisaris Jenderal
Pemerintahan Raffles di Indonesia hanya berlangsung selama 5 tahun. Pada tanggal 19 Agustus 1816, berlangsung penyerahan kekuasaan atas Indonesia dari Inggris kepada Indonesia
Di Belanda sendiri, terjadi perdebatan mengenai kebijakan politik yang tepat untuk Indonesia, yaitu
Kaum Liberal berkeyakinan bahwa tanah jajahan akan memberikan keuntungan kepada negeri induk apabila urusan ekonomi diserahkan kepada pihak swasta
Kaum Konservatif berkeyakinan bahwa tanah jajahan akan memberikan keuntungan kepada negeri induk apabila urusan ekonomi ditangani langsung oleh pemerintah.
Sekitar tahun 1830-an, kebijakan politik pemerintah kolonial mulai bergeser ke arah konservatif. Penyebabnya adalah
  • Kebijakan politik liberal banyak mengalami hambatan, karena tidak sesuai dengan sistem feodal yang berlaku di Indonesia.
  • Pemerintah sulit berhubungan langsung dan bebas dengan rakyat, pemerintah harus melalui perantara para penguasa setempat.
  • Hasil perdagangan dari sektor ekspor belum memuaskan karena kalah bersaing dengan Inggris.
  • Terjadi pemisahan Belgia dari Belanda, akibatnya Belanda kehilangan daerah industrinya sehingga tidak mampu menyaingi Inggris dalam ekspor hasil industri ke Indonesia.

Sistem Tanam Paksa
Sistem ini dijalankan atas saran Van Den Bosch yang kemudian diangkat jadi gubernur jenderal di Indonesia.
~Akibat Tanam Paksa~
Dampak Tanam Paksa bagi Belanda:
Kas belanda yang semula kosong dapat dipenuhi
Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja
Belanda tidak mengalami kesulitan keuangan lagi dan mampu melunasi utang-utang Indonesia.
Menjadikan Amsterdam sebagai pusat perdagangan hasil tanaman tropis.
Dampak tanam paksa bagi Indonesia
Menyebabkan tekanan fisik maupun mental yang berkepanjangan bagi rakyat Indonesia
Jumlah penduduk di Pulau jawa menurun drastic dikarenakan banyaknya kelaparan dan kematian karena system tanam paksa ini
Pertanian terutama hasil padi mengalami banyak kegagalan.
~Aturan-Aturan Tanam Paksa~
  • Penduduk desa yang punya tanah diminta menyediakan seperlima dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran dunia.
  • Tanah yang disediakan bebas dari pajak.
  • Hasil tanaman itu harus diserahkan kepada pemerintah Belanda. Apabila harganya melebihi pembayaran pajak maka kelebihannya akan dikembalikan kepada petani.
  • Waktu untuk menanam tidak boleh melebihi waktu untuk menanam padi.
  • Kegagalan panenan menjadi tanggung jawab pemerintah.
  • Wajib tanam dapat diganti dengan penyerahan tenaga untuk dipekerjakan di pengangkutan, perkebunan, atau di pabrik-pabrik selama 66 hari.
  • Penggarapan tanaman di bawah pengawasan langsung oleh kepalakepala pribumi, sedangkan pihak Belanda bertindak sebagai pengawas secara umum.
~Pelaksanaan Tanam Paksa~
Melihat aturan-aturannya, sistem tanam paksa tidak terlalu memberatkan, namun pelaksanaannya sangat menekan dan memberatkan rakyat. Adanya cultuur procent menyangkut upah yang diberikan kepada penguasa pribumi berdasarkan besar kecilnya setoran, ternyata cukup memberatkan beban rakyat. Untuk mempertinggi upah yang diterima, para penguasa pribumi berusaha memperbesar setoran

~Akhir Tanam Paksa~
Sistem tanam paksa yang mengakibatkan kemelaratan bagi bangsa Indonesia, khususnya Jawa, akhirnya menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, seperti berikut ini.
oGolongan Pengusaha
Golongan ini menghendaki kebebasan berusaha. Mereka menganggap bahwa tanam paksa tidak sesuai dengan ekonomi liberal.
oBaron Van Hoevel
Ia adalah seorang missionaris yang pernah tinggal di Indonesia (1847). Dalam perjalanannya di Jawa, Madura dan Bali, ia melihat penderitaan rakyat Indonesia akibat tanam paksa. Setelah pulang ke Negeri Belanda dan terpilih sebagai anggota parlemen, ia semakin gigih berjuang dan menuntut agar tanam paksa dihapuskan. 



oEduard Douwes Dekker
Ia adalah seorang pejabat Belanda yang pernah menjadi Asisten Residen Lebak (Banten). Dengan nama samaran Multatuli yang berarti “Aku Telah Banyak Menderita", ditulisnya buku Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda (1859) yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat tanam paksa.
Akibat adanya reaksi tersebut, pemerintah Belanda secara berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam paksa.
  • Nila, teh, kayu manis dihapuskan pada tahun 1865
  • Tembakau tahun 1866
  • Tebu tahun 1884
  • Tanaman terakhir yang dihapus adalah kopi pada tahun 1917 karena paling banyak memberikan keuntungan.

2 komentar:

Poskan Komentar